Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 September 2013

7 Langkah Menkes Sehatkan Indonesia

Kementrian Kesehatan RI menjalankan 7 upaya peningkatan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau. Langkah - langkah tersebut bertujuan untuk menaikkan derajat Kesehatan Masyarakat. 7 langkah tersebut adalah :
  1. Peningkatan kapasitas pelayanan kesehatan dasar dan penyediaan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK)
  2. Penyediaan, distribusi, dan retensi Sumber Daya Manusia kesehatan di seluruh Indonesia
  3. Penyediaan obat dan alat kesehatan yang mencukupi di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan Pemerintah
  4. Pencapaian Universal Health Coverage
  5. Perhatian khusus pada Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan Terluar serta Daerah Bermasalah Kesehatan  
  6. pelaksanaan Reformasi Birokrasi Kesehatan
  7. Perwujudan pelayanan kesehatan yang bertaraf internasional (world class health care), termasuk adanya rumah sakit yang terakreditasi internasional (world class hospital)
Selain ke-7 langkah tersebut, Prof. Ali Gufron menambahkan kebijakan Kementerian Kesehatan dalam pemenuhan kekurangan tenaga kesehatan akan terus diupayakan.
Upaya lainnya melalui pendidikan dan pengadaan serta distribusi tenaga kesehatan, melalui berbagai program seperti penempatan dokter dan bidan PTT, penempatan tenaga kesehatan strategis dan penugasan khusus residen senior ke daerah DTPK dan DBK serta pemberian bantuan pendidikan dokter/dokter gigi spesialis.

Sumber : health.liputan6.com

Senin, 03 Desember 2012

Sejarah Kesehatan Masyarakat

Membicarakan tentang kesehatan masyarakat, pasti tidak terlepas dari dua tokoh metodologi Yunani, yakni Asclepius dan Higeia. Berdasarkan cerita mitos Yunani tersebut Asclepius disebutkan sebagai seorang dokter pertama yang tampan dan pandai, meskipun tidak disebutkan sekolah atau pendidikan apa yang telah ditempuhnya, tetapi diceritakan bahwa ia dapat mengobati penyakit dan bahkan melakukan bedah nerdasarkan prosedur-prosedur tertentu dengan baik. 

Higeia, seorang asistennya, yang kemudian diceritakan sebagai istrinya, juga telah melakukan upaya-upaya kesehatan. Beda antara Asclepius dengan Higeia dalam pendekatan atau penanganan masalah kesehatan sebagai berikut : 1) Asclepius melakukan pendekatan (pengobatan penyakit) setelah penyakit tersebut terjadi pada seseorang. 2) Higeia mengajarkan kepada pengikutnya dalam pendekatan masalah kesehatan melalui "Hidup Seimbang", yaitu menghindari makanan atau minuman beracun, makan makanan yang bergizi (baik), cukup istirahat, dan melakukan olahraga. Apabila orang sudah jatuh sakit, Higeia lebih menganjurkan melakukan upaya-upaya secara alamiah untuk penyembuhan penyakit tersebut, antara lain lebih baik dengan memperkuat tubuhnya dengan makanan yang baik, dari pada dngan pengobatan atau pembedahan.

Dari cerita mitos Yunani, Asclepius dan Higeia tersebut, akhirnya muncul dua aliran atau pendekatan dalam menangani masalah-masalah kesehatan. Kelompok atau aliran pertama cenderung menunggu terjadinya penyakit (setelah sakit), yang selanjutnya disebut pendekatan kuratif (pengobatan). Kelompok ini pada umumnya terdiri dari dokter, dokter gigi, psikiater dan praktisi-praktisi yang lain yang melakukan pengobatan penyakit baik fisik, psikis, mental maupun sosial. Sedangkan kelompok kedua, seperti halnya pendekatan Higeia, cenderung melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit dan meningkatkan kesehatan (promosi) sebelum terjadi penyakit. Kedalam kelompok ini termasuk para petugas keehatan masyarakat lulusan-lulusan sekolah atau institusi kesehatan masyarkat dari berbagai jenjang.

Dalam perkembangan selanjutnya, seolah-olah timul garis pemisah antar kedua kelompok profesi, yakni pelayanan kesehatan (kuratif), dan pelayanan pencegahan (preventif). Kedua kelompok ini dapat dilihat perbedaan pendekatan yang dilakukan antara lain sebagai berikut :


Kuratif (Dokter, Drg, dll)
Preventif (Kesmas)
1.     Umumnya dilakukan terhadap sasaran secara individual. Kontak terhadap sasaran (pasien) pada umumnya hanya sekali saja. Jarak antara petugas kesehatan (dokter, drg dsb) dengan sasaran atau pasien cenderung jauh.
1.      Sasaran atau pasien adalah masyarakat. Masalah-masalah yang ditangani umumnya juga masalah-masalah yang menjadi masalah di masyarakat. Hubungan antara petugas kesehatan dengan masyarakat (sasaran) lebih bersifat kemitraan.
2.      Cemderung bersifat reaktif, artinya hanya menunggu masalah datang.  
2.     Pendekatan proaktif, artinya tidak menunggu maslah, tetapi mencari masalah.
3.     Melihat dan menangani klien atau pasien hanya dilihat secara partial, padahal manusia terdiri dari kesehatan bio-psikologi dan sosial, yang terlihat antara aspek satu dengan yang lainnya.  
3.Melihat klien sebagai makhluk yang utuh, dengan pendekatan yang holistik. Terjadinya penyakit tidak semata-mata karena terganggunya sistem biologi, psikologi dan sosial.

Sumber : Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Keshatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta : Rineka Cipta.